Disitu ada tawa....
ada sakit, menderita, terlena,merasa bersalah, puas, rasa teraniaya, menganggap dan tak dianggap. harmoni kehidupan ini semakin nyata..
Disitu pula ada tangis, tersentuh,termenung dan rasa nyaman dihati...rasanya tak mungkin ini kujalani sendiri..
semua ini tak lepas dari tatapan tajam seorang bocah yang menaungi tumpukan kisah..
buruk baik ada pada tatapanmu...hitam putih ada dalam ingatanmu. Betapa pahit dan manis dirasakan hingga tak mampu lupa dari benak..Walau hanya kisah murah, namun tak murahan..tak seorangpun alami ini. Hanya sajian kisah berharga inilah akan terbentuk sebuah lukisan. Lukisan yang tak pernah berakhir,lukisan yang terkadang tak jelas apa artinya. Namun dibalik sebuah lukisan panjang ini, berbagai warna yang tampaknya bercerita pada setiap goresannya. Entah apa itu, yang jelas ia tampak cerah dan cantik, warna gelap dan ada sedikit warna keemasan. mungkin itulah maksud hidup yang berwarna..Inilah kisahku, seorang bocah yang terkadang merasa tak pantas mendapat kasih sayang dari wanita dambaannya. Lelaki kotor yang sedikit jorok tabiatnya, yang semaunya sendiri bertindak. Mungkin hanya sedikit tampan yang ia miliki. Tak heran, Akulah lelaki bodoh yang hanya mengandalkan wajah bodohnya. Entah hanya keberuntungan ataukah sebuah paksaan hidup, yang jelas hanya sebuah cemooh dan cercaan bodoh serta sedikit pujian bodoh. Yang jelas inilah aku, si petualang omong kosong...
Aku merasa seakan buku yang kusut tak terjamah yang dengan terpaksa ditemukan oleh sorang gadis. Buku yang kotor penuh noda, bagian atas yang sobek dan sedikit basah. Buku yang penuh dengan coretan cerita yang samar-samar terbaca, tulisan yang sedikit kabur karena tinta yang terkena air hujan. Aku sendiri tak tahu tujuan gadis cantik itu memungut Aku yang tak berguna ini. Dalam benakku hanya terpikir, “ah, mungkin hanya akan dilihat judulnya kurang jelas kemudian dibuang kembali, atau mungkin hanya sedikit membuka tulisannya sambil lalu kemudian dibuang lagi begitu saja, ataukah mungkin juga si gadis cantik ini sebodoh diriku? “. Pikiran liarku mulai menggerutu sambil harap-harap cemas. Selanjutnya aku hanya termenung tentang apa yang akan ia lakukan terhadapku. Aku hanya menunggu tanpa berharap, namun ternyata satu persatu ia membukanya dengan hati-hati. Ternyata gadis itu tak sebodoh aku. Namun apa iya dia akan membaca pada setiap lembaran kusam dan bau itu? Ahh biarkan saja ia berekspresi, toh nanti juga dibuang lagi. Aku hanya pasrah dan melihat sedikit simpul senyumnya yang seakan menaruh harapan pada sampah ini. Aku mulai tahu, ia membuka tiap lembar dan mulai mebaca dan memahami setiap goresan tinta warna biru yang sedikit ungu itu. Tinta yang kadang tak terlalu jelas karena aku sang buku yang memiliki masa lalu kurang begitu menarik. Namun aku yakin sekali, pada bagian tengah kira-kira setelah tiga perempat halaman ia akan menemukan cerita yang tak pernah ia sadari. Cerita unik yang terkadang memuakkan dan sedikit janggal dengan khas kasar dan sedikit bodoh namun cemerlang. Dia memahamiku seperti saat ia membeli buku baru yang judulnya sama, dengan penuh semangat membaca dan sungguh-sungguh terbawa oleh isi buku. Ia mulai merasa nyaman bersamaku saat aku merasa heran dan sedikit sinis. “Sinis” inilah kebiasaanku yang sedikit lucu.
Aku mulai tahu apa yang ia kerjakan.
sampai akhirnya cerita ini berubah ubah menurut nasibnya -_-
No comments:
Post a Comment